Roy Suryo (foto: Antara)
Pengacara sekaligus pegiat media sosial, Nazlira Alhabsy, angkat bicara mengenai penetapan Roy Suryo sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemalsuan ijazah Presiden Jokowi.
Ia menegaskan tuduhan tersebut tidak masuk akal dan justru mencederai logika hukum.
"Jika dituduh mengedit-edit dokumen yang ditelitinya secara ilmiah adalah palsu, publik hanya butuh waktu 30 detik untuk spontan menyatakan, Roy Suryo sedang difitnah dan dikriminalisasi,” ujar Nazlira di X @Naz_lira (11/11/2025).
Dikatakan Nazlira, Roy Suryo yang lahir di Yogyakarta pada 18 Juli 1968, berasal dari keluarga yang dikenal dengan latar belakang akademik dan budaya kuat.
"Ayahnya Kanjeng Pangeran Haryo Soejono PH. Keturunan Ningrat yang menyandang gelar Bangsawan Kerajaan pewaris Mataram, yakni Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman," sebutnya.
Ia menuturkan bahwa mantan Menpora itu bukan keturunan dari silsilah sembarangan.
Ibundanya, Raden Ayu Soeratmiyati Notonegoro, seorang putri Ningrat generasi kedua hingga ketujuh dari raja atau pemimpin yang terdekat (secara silsilah) yang pernah memerintah.
"Bukan silsilah dari wanita-wanita pembunuh para Jenderal TNI AD seperti para Gerwani PKI itu," tukasnya.
Ia menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan sempat menjadi pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) serta Program D-3 Komunikasi UGM.
"Roy Suryo juga bukan tukang serut kayu yang berpura-pura lugu dan mengeksploitasi simpati publik lewat saluran comberan," Nazlira menuturkan.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
"Roy Suryo menamatkan pendidikan magister ilmu kesehatan masyarakat di FK UGM," tambahnya.
Kata Nazlira, pendidikan formal Roy sangat jelas dan padat, karenanya kerap dijadikan Ahli dalam berbagai perkara hukum yang berkaitan dengan telematika dan media.
"Bukan tong kosong yang bahkan bunyinya pun fals macam orang mabuk Kecubung. Ketika Roy berbicara, sorot matanya berbinar memancarkan kecerdasan intelektualnya," terangnya.
Tidak berhenti di situ, berdasarkan pengamatan Nazlira, Roy disebut selalu menarasikan pemikiran yang multi dimensional.
"Bukan bolak-balik ratusan kali mengulang-ulang frasa Go green, Carbon Capture and Storage, Bonus Demografi dan Hilirisasi seperti orang yang mengekspresikan kedangkalan literasi, tolol, tapi ingin terlihat pinter," sesalnya.
"Secara kasat mata, publik dengan mudah membedakan antara Roy Suryo dengan orang-orang dungu yang doyan manggut-manggut berlagak pintar," kuncinya.
(Muhsin/fajar)
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR

Posting Komentar
Posting Komentar