Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kembali mencuri perhatian publik lewat pernyataan tegas, lugas, dan penuh tantangan.
Di hadapan media, Purbaya menyatakan dirinya siap dipecat jika pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mencapai 6 persen pada 2026 target yang berada di atas asumsi APBN sebesar 5,4 persen.
Pernyataan tersebut langsung menjadi bola panas di kalangan ekonomi dan politik. Namun bagi Purbaya, tekanan seperti itulah yang justru membuat kerja lebih “menarik”.
“Kalau enggak tercapai 6 persen, gua dipecat.
Tapi kalau enggak ada challenge, enggak menarik buat saya.
Lebih baik saya tidur di rumah aja,” ujar Purbaya dikutip TribunTrends dari YouTube Kompas pada Jumat, 21 November 2025.
Dorongan Melampaui Target APBN
Purbaya menegaskan bahwa dirinya tidak puas dengan target pertumbuhan 5,4 persen. Ia ingin Indonesia bergerak lebih agresif, lebih cepat, dan lebih berani.
“Saya harapkan tahun depan ekonomi bukan 5,4 persen seperti target APBN.
Saya pengin dorong sampai 6 persen. Risikonya apa saya ngomong begini? Ya kalau enggak capek, gua dipecat.”
Tak berhenti di situ, Purbaya bahkan memproyeksikan percepatan pertumbuhan di tahun-tahun berikutnya.
Ia berkata dengan penuh optimisme:
“Tahun depannya lagi kita coba dong lebih cepat lagi, lebih cepat lagi.
Tahun ketiga, keempat, sudah kelihatan tuh, 8 persen sudah dekat.”
Optimisme itu bukan sekadar narasi kosong. Purbaya menguraikan “mesin pertumbuhan” yang menurutnya harus bekerja simultan: swasta, pemerintah, iklim investasi, teknologi, dan penyederhanaan regulasi.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa
GEBRAKAN MENKEU PURBAYA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa siap dipecat jika pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak mencapai 6 persen pada 2026 target yang berada di atas asumsi APBN sebesar 5,4 persen. (Tribunnnews.com | Taufik Ismail)
Membandingkan Mesin Pertumbuhan Era SBY dan Jokowi
Dalam penjelasannya, Purbaya sempat mengulas dinamika pertumbuhan di era pemerintahan sebelumnya:
Era SBY: mesin utamanya sektor swasta, pertumbuhan rata-rata sekitar 6 persen
Era Jokowi: mesin utamanya belanja pemerintah, pertumbuhan sekitar 5 persen
Menurutnya, jika kedua pendekatan itu digabungkan secara strategis, maka pertumbuhan 6 persen bukan hal yang mustahil.
“Kalau saya gabung, 6 persen lebih enggak terlalu sulit.
Tambah dengan perbaikan iklim investasi, pengurangan beban yang menghambat real sektor, harusnya pertumbuhan lebih cepat bisa dicapai.”
Teknologi, Analisis Global, dan Mindset yang Lebih Cerdas
Purbaya juga menyinggung perlunya kecerdasan kolektif baik pemerintah, pelaku usaha, maupun analis agar Indonesia tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi.
Dengan penuh semangat ia berkata:
“Saya harapkan kita menjadi lebih pintar lagi ke depan sehingga kita bisa mengerti betul, bisnismen mengerti betul bagaimana memanfaatkan teknologi dan menghadapi tantangan ke depan.”
Ia bahkan menyebut masukan dari analis internasional seperti Bloomberg dan Businessweek sebagai bahan penting dalam memformulasikan kebijakan ekonomi jangka panjang.
Taruhan Jabatan untuk Ekonomi Bangsa
Pernyataan “siap dipecat” yang diulang beberapa kali menunjukkan bahwa Purbaya tidak main-main.
Ia menjadikan target ekonomi sebagai challenge personal sekaligus komitmen publik.
“Kalau enggak ada tantangan, enggak menarik buat saya. Lebih baik saya tidur di rumah aja.”
Pernyataan itu bukan hanya retorika itu adalah pesan bahwa pemerintah ingin keluar dari zona nyaman.
Arah Baru Kebijakan Ekonomi?
Jika target 6 persen tercapai, Indonesia bisa masuk ke level pertumbuhan yang membuka lebih banyak lapangan kerja, meningkatkan daya beli, serta memperkuat posisi Indonesia di kancah global.
Jika tidak? Purbaya sudah tahu konsekuensinya. Dan ia menyampaikannya sendiri berulang kali tanpa ragu. (*)

Posting Komentar
Posting Komentar