Inilah curhat pilu almarhum Sophan Sophiaan, dikucilkan dan ditertawakan, buntut tolak uang-uang haram di DPR: Aku harus mundur !
Meninggal dunia dalam kecelakaan motor gede atau Moge di Ngawi Jawa Timur, 17 Mei 2008 silam, nama aktor dan politikus Sophan Sophiaan kembali jadi buah bibir.
Bukan karena panggung teater atau layar perak yang membesarkan namanya, melainkan curhat pilunya di masa lalu kepada sahabatnya, Andy F. Noya, seorang jurnalis senior .
Dalam sebuah video yang diunggah akun Facebook @arif Nata, Andy membuka kembali percakapan mendalamnya dengan Sophan ketika sang aktor tengah berjuang di kursi parlemen DPR RI.
Suaranya berat, getir, ketika mengisahkan betapa Sophan tak lagi sanggup berkompromi dengan kenyataan pahit di DPR.
Di ruang megah tempat para wakil rakyat berkumpul, Sophan justru merasa sendirian.
Suami aktris senior Widyawati itu bak kesepian dalam keramaian gedung parlemen DPR RI.
CURHAT SOPHAN SOPHIAAN - Andi F. Noya bongkar curhatan alm. Sophan Sophiaan sebelum mundur dari DPR, tak tahan lihat praktik menyimpang, dikucilkan gegara tolak uang haram. (Instagram @kickandyshow @romasophiaan)
Sebagai anggota fraksi PDI-P, ia menolak hanyut dalam arus kotor yang dianggap sudah menjadi kebiasaan.
“Nggak tahan aku, aku harus mengundurkan diri dari keanggotaanku di DPR,” Andy F Noya menirukan ucapan Sophan dengan tekanan yang masih terasa menusuk.
Sophan tahu dirinya dikucilkan. Ia ditertawakan karena berbeda.
Namun, harga yang harus ia bayar demi mempertahankan nurani, tetap ia jalani.
“Hati nuraniku nggak bisa terima setiap hari aku melihat orang-orang menerima ‘uang-uang’ yang menurut dia haram. Aku tidak mau terima, aku dikucilkan, aku tidak mau terima aku ditertawakan, batinku berontak,” ungkap Andy, menyampaikan keluh kesah Sophan yang tak lekang oleh waktu.
Sang Aktor yang Menantang Panggung Politik
Lahir pada 26 April 1944, Sophan Sophiaan memang dibesarkan dalam perfilman sampai akhirnya terjun berpolitik lewat partainya Megawati Soekarnoputri.
Ia adalah seorang sutradara dan produser yang dihormati. Putra politikus senior Manai Sophiaan itu membawa darah politik dalam dirinya, namun juga membawa idealisme yang sulit dipatahkan.
Setelah merajai layar perak, ia menantang panggung politik. Pada masa Orde Baru, ia duduk di kursi DPR lewat Partai Demokrasi Indonesia (1992–1997).
Di era Reformasi, ia kembali ke Senayan bersama PDI-P. Namun yang ia temui bukan perjuangan, melainkan kenyataan getir: parlemen yang kehilangan taringnya.
Awal 2002 menjadi titik balik. Kasus dana nonbudgeter Bulog (Buloggate) menyeret Ketua DPR saat itu, Akbar Tandjung.
Sophan menuntut DPR membentuk Panitia Khusus (Pansus). Tapi partainya sendiri, di bawah Megawati Soekarnoputri, memilih jalur hukum biasa.
Perbedaan itu menjadi puncak luka. Sophan memilih mundur.
Langkah yang mengejutkan—karena di saat banyak orang mati-matian mengejar kekuasaan, ia justru meninggalkannya. Ia tercatat sebagai anggota DPR/MPR pertama di era Reformasi yang rela melepaskan jabatan demi menjaga prinsip.
Menyepi, sampai akhirnya Berpulang lewat kecelakaan Moge
Setelah keluar dari dunia politik, Sophan menepi. Ia kembali ke seni, menyalurkan tenaga untuk kegiatan sosial, dan sesekali muncul kembali di layar kaca.Namun takdir berkata lain.
Pada 17 Mei 2008, ia mengembuskan napas terakhir akibat kecelakaan motor saat mengikuti tur "100 Tahun Kebangkitan Nasional". Kepergiannya menyisakan duka sekaligus teladan: tentang keberanian memilih jalan yang sulit, meski harus sendirian.
Kisah yang dibagikan Andy F. Noya adalah sebuah pengingat—bahwa integritas seringkali datang bersama kesepian, dan idealisme bisa jadi sebuah kutukan.
“Banyak orang yang nggak tahan ketika dia dikucilkan, atau karena daripada dia dikucilkan dia menjadi bagian dari kerusakan yang terjadi,” tutup Andy, dengan nada lirih penuh makna. (*)


Posting Komentar
Posting Komentar