Video seorang reporter CNN yang menangis saat meliput langsung liputan bencana di Aceh hingga kini masih viral di media sosial. Video itu diketahui telah dihapus pihak CNN yang justru membuat publik makin heboh dan ramai membahasnya.
Salah satu yang membahasnya adalah peneliti ISEAS Yosuf-Ishak Institut, Made Supriatma. Melalui tulisan di akun media sosialnya, Made mambahas peristiwa itu sembari mengkritik sikap pemerintah yang enggan menetapkan banjir Sumatera sebagai bencana nasional.
"Hati saya tersayat ketika menyaksikan seorang reporter dari CNN Indonesia terisak di depan kamera ketika meliput bencana di Aceh. Ia mengingatkan ada anak-anak yang kelaparan tidak jauh dari tempatnya melaporkan," tulis Made, mengawali ulasannya, dikutip Jumat (19/12/2025).
Dia melanjutkan, tidak ada bantuan yang masuk. Tidak ada tindakan apapun dari pemerintah. Lembaga pemerintah yang bertanggungjawab menangani bencana, khususnya BNPB, tidak kelihatan. Mungkin mereka kewalahan menangani bencana dalam skala ini.
Dan, bencana ini belum selesai. Ada jembatan yang dibangun oleh Zeni TNI-AD, sudah terpasang tapi kemudian kembali tersapu oleh banjir. Daerah-daerah yang terisolir belum terbuka sepenuhnya. Sebagian bahkan ada yang dilanda longsor kembali.
"Apa yang kita dapat dari respon pemerintah pusat? Hanya sanggahan. Denial. Seolah-olah dunia berputar dengan normal, senormal hidup mereka yang mewah," kritiknya.
Sementara di bawah, rakyat semakin frustasi. Kalau Anda pernah mengalami bencana, Anda akan tahu bahwa bukan saja makanan yang tidak ada. Tetapi juga air bersih. Pakaian tidak bisa dicuci, rumah tidak bisa ditempati. Tidur pun harus di tempat-tempat darurat yang jauh dari layak. Bahkan kaum perempuan pun kesulitan mendapatkan pembalut pada saat mereka memerlukannya.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR

Posting Komentar
Posting Komentar