Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, merasa syok mendengar pernyataan Pangdam I/BB, Mayjen TNI Rio Firdianto, soal penyebab banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra Utara.
Ia tidak mampu mengeluarkan kata-kata melihat para pejabat negara justru seakan buta mata melihat fakta yang ada di lapangan.
Dalam sebuah wawancara dengan televisi nasional, Pangdam I/BB Mayjen TNI Rio Firdianto mengatakan bahwa bencana yang terjadi itu murni karena alam.
Terutama akibat curah hujan ekstrem yang terjadi berhari-hari.
Menjawab pertanyaan terkait temuan kerusakan hutan, Rio mengatakan bahwa pihaknya tidak menemukan indikasi signifikan terkait pembalakan liar berdasarkan pemantauan udara.
“Kami tadi pada saat terbang di atas area itu memang secara spesifik tidak menemukan yang tadi dijelaskan oleh Mbak," ujar Rio menjawab pertanyaan presenter, dikutip pada Senin (8/12/2025).
"Bahwa kami hanya melihat penyebab utamanya adalah curah hujan yang cukup tinggi dan berlangsung selama berhari-hari," tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa kondisi tanah yang jenuh akibat hujan berkepanjangan menyebabkan lereng-lereng gunung runtuh.
“Ini yang menyebabkan tanah-tanah yang sudah jenuh itu akhirnya longsor. Jadi banyak pohon-pohon yang memang itu hutan karena mungkin terlalu deras hujannya sehingga longsor dan itu terjadi di beberapa titik,” ungkapnya.
Rio mencatat sejumlah dampak serius akibat bencana yang terjadi.
“Saya lihat ada beberapa jalan yang putus kemudian ada beberapa desa atau pemukiman penduduk yang terisolir. Ini sudah kami petakan,” terangnya.
Kata Rio, langkah taktis telah disiapkan untuk menjangkau wilayah yang terputus aksesnya.
“Tadi kami sudah melapor kepada BNPB untuk merencanakan menggunakan helikopter dengan pasukan kami untuk menurunkan logistik ke daerah-daerah tersebut secara airdrop,” Rio menuturkan.
"Menggunakan helikopter diturunkan sedekat mungkin dengan masyarakat," tambahnya.
Rio kembali menegaskan bahwa berdasarkan pantauan udara, ia tidak melihat adanya kerusakan hutan sebagai penyebab utama.
“Dari pantauan udara tidak ada tanda kerusakan hutan, banjir, bencana ini pure karena memang curah hujan yang tinggi,” katanya.
Namun ketika disinggung visual udara yang memperlihatkan sejumlah area terbuka yang disebut sebagai hutan gundul, Rio memberikan klarifikasi.
“Iya, betul. Memang kami juga awalnya berpikir sama. Bahwa memang itu awalnya seperti ada penggundulan hutan, ternyata di titik-titik yang memang hijau pun juga longsor,” tandasnya.
Karena itu, menurut Rio, dugaan penyebab bencana tidak dapat hanya dibebankan pada faktor pembalakan hutan.
"Makanya itu yang kami sampaikan, ternyata tidak pure masalah yang diceritakan di sukan ada penggudulan hutan dan lain-lain. Memang ini benar-benar karena alam,” imbuhnya.
Meski demikian, Rio menegaskan bahwa pemangku kepentingan daerah akan tetap melakukan evaluasi lebih lanjut.
“Nah, saya sudah diskusi dengan Pak Gubernur, Pak Kapolda, bahwa mungkin ke depan kita akan melihat kalau memang itu benar terjadi," jelasnya.
"Itu menjadi evaluasi kami di Forkopimda Provinsi Sumut untuk membenahi atau mengawasi ke depan supaya lebih tertib sesuai dengan aturan pemerintah," kuncinya.
Dapatkan berita terupdate dari FAJAR

Posting Komentar
Posting Komentar