infoselebb.my.id: Saling Pecat di NU, Mahfud MD Sebut Ya Wajar Karena Masalahnya Rebutan Proyek Tambang! - LESTI BILLAR

Saling Pecat di NU, Mahfud MD Sebut Ya Wajar Karena Masalahnya Rebutan Proyek Tambang!

Posting Komentar

Mahfud MD ungkap akar konflik NU perebutan tambang! (Tangkapan layar @podcastterusterang)

Mahfud MD ungkap akar konflik NU perebutan tambang! (Tangkapan layar @podcastterusterang)

Konflik di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) makin memanas.


Gelombang saling pecat antara Rais Aam dan Ketua Umum membuat publik bertanya


Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Dalam obrolan panjang di podcast Terus Terang, Mahfud MD bicara dengan lugas bongkat semuanya.


Ia tidak hanya menjelaskan dinamika organisasi, tetapi juga membongkar akar masalah yang selama ini jarang disebut lantang yaitu tambang.


Pernyataan Mahfud cukup mencengangkan. Dengan tenang, namun tegas.


Ia menyebut bahwa kisruh NU saat ini tidak bisa dilepaskan dari urusan ekonomi besar yang melibatkan kepentingan tambang.


Itu sebabnya, percekcokan struktural yang terlihat di permukaan seperti tafsir AD/ART atau kewenangan pemecatan menurut Mahfud hanyalah “kulit luar”.


“Ini nggak bisa dibantah bahwa ini asal muasalnya soal tambang,” ujarnya blak-blakan dalam podcast


Kata-kata itu langsung menambah bobot pada perdebatan yang sebelumnya hanya bergerak di ruang spekulasi publik.


Mahfud kemudian mengungkapkan kerisauannya melihat NU yang, menurutnya, telah menjauh dari nilai dasar organisasi.


Ia membandingkan NU masa sekarang dengan NU era para kiai besar yang menjadi panutan moral.


“NU yang taat pada ulama, tidak rebutan proyek Dulu nggak ada itu urusan ngurus perusahaan, ngurus tambang,” katanya.


Pernyataan ini menyoroti pergeseran kultur yang dirasakan Mahfud.


Jika dulu NU berdiri sebagai kekuatan moral dan sosial, kini sebagian elite dianggap terlibat dalam kepentingan yang bersifat ekonomis. Tambang menjadi simbol dari pergeseran itu.


Mahfud menggambarkan bahwa semakin besar kekuasaan yang dipertaruhkan, semakin besar pula potensi retaknya kesatuan.


Itulah yang menurutnya kini terjadi dalam tubuh PBNU.


Ketegangan antara Rais Aam dan Ketua Umum sudah sampai pada titik saling pecat. Mahfud tidak menutupi keprihatinannya melihat kondisi tersebut.


“Sekarang kan sudah saling pecat Ini berarti dua-duanya ngotot merasa sama-sama berhak.” ucapnya


Dampaknya lebih besar dari yang terlihat. Tidak hanya menciptakan kebingungan di tingkat pusat, tetapi juga melumpuhkan struktur organisasi di daerah.


Menurut Mahfud, banyak SK wilayah dan cabang menjadi tertahan karena tidak jelas siapa yang sah menandatangani.


“Kasihan di bawah itu nggak bisa bergerak lebih dari 100 SK belum turun,” ucapnya.


Situasi ini membuat kegiatan organisasi di tingkat akar rumput terganggu, mulai dari administrasi, program sosial, hingga koordinasi rutin dengan pemerintah daerah.


Mahfud juga menyebut bahwa perubahan kultur di NU telah mencapai titik di mana suara ulama tak lagi menjadi kompas moral organisasi.


“Kalau dulu Kiai Asad ngomong udah diam Sekarang ini ngomong malah yang ngomong yang diantem balik,” katanya. 


Kritik ini menegaskan bahwa persoalan dukungan terhadap tambang bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal hilangnya orientasi moral di lingkungan elite organisasi.


Dari keseluruhan pernyataan Mahfud, satu pesan besar muncul konflik NU hari ini tidak bisa disederhanakan menjadi soal administratif atau perselisihan personal.


Ada persoalan struktural yang lebih dalam, yang bersentuhan langsung dengan ekonomi tambang dan perubahan karakter organisasi.


Jika NU ingin kembali menjadi rumah besar yang teduh dan dihormati, kata Mahfud, maka jalan keluar bukan hanya menyelesaikan perselisihan struktural.


Tetapi juga mengembalikan jati diri NU sebagai organisasi yang taat ulama, bukan taat proyek.*** (*)

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter