infoselebb.my.id: Kontras Laporan Irine dan Klaim Prabowo: Seminggu di Aceh Tak Berubah, Jurnalis Menangis Warga Lapar - LESTI BILLAR

Kontras Laporan Irine dan Klaim Prabowo: Seminggu di Aceh Tak Berubah, Jurnalis Menangis Warga Lapar

Posting Komentar

Sebuah kontras tajam muncul antara pernyataan pemerintah pusat dan realitas pilu di lapangan terkait penanganan bencana di Sumatra.


Di tengah klaim Presiden Prabowo Subianto jika situasi pasca-bencana di Aceh terkendali, sebuah video laporan jurnalis CNN Indonesia, Irine Wardhanie viral setelah tak kuasa menahan tangis melaporkan kondisi warga yang terisolir.


Irine mengungkapkan, selama satu minggu ia berada di Aceh Tamiang, hampir tidak ada perubahan signifikan, bahkan banyak anak-anak yang mulai menderita kelaparan karena bantuan tak kunjung menembus wilayah terdampak.


Sontak, laporan Irine itu menjadi perbincangan warganet setelah potongan video-nya beredar viral di media sosial. 


Salah satu momen emosional terjadi ketika Irine menangis sambil melaporkan kondisi lokasi bencana banjir dan tanah longsor di Aceh Tamiang.


Menggambarkan situasi di lapangan, Irine mengaku, sudah satu minggu ada di lokasi bencana, namun tidak ada perubahan.


Oleh karenanya, menurut Irine, bisa dibenarkan warga Aceh mengibarkan bendera putih sebagai isyarat menyerah dengan keadaan.

BUPATI ACEH UMRAH - Gajah saat melakukan pembersihan batang kayu di permukiman warga di Kawasan Meurah Dua, Pidie Jaya, Senin (8/12/2025). Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), mengungkapkan kemarahannya terhadap dua 'dosa' fatal yang dilakukan oleh kepala daerah di tengah bencana banjir dan longsor di Aceh. Selain Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, yang nekat umrah ada Bupati lain yang justru lari ke Medan untuk karaoke saat rakyatnya kesusahan.

BENCANA DI ACEH - Gajah saat melakukan pembersihan batang kayu di permukiman warga di Kawasan Meurah Dua, Pidie Jaya, Senin (8/12/2025). Kontras tajam muncul antara pernyataan pemerintah pusat dan realitas pilu di lapangan terkait penanganan bencana di Sumatra. (Serambinews.com/Hendri Abik)

Selain itu, Pemerintah Provinsi Aceh telah mengirim surat ke dua lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk meminta bantuan.


"Lebih dari seminggu di Aceh tidak ada perubahan. Jadi wajar masyarakat Aceh mengibarkan bendera putih kepada pemerintah," katanya, dikutip dari video viral, Jumat (18/12/2025).


Irine kemudian menunjukkan kondisi akses di wilayah Aceh Tamiang yang masih terisolir.


Jembatan yang jadi akses utama mobilisasi putus diterjang banjir.


"Di sebelah sana masih banyak anak-anak yang nggak makan," katanya sambil meneteskan air mata.


Irine dalam laporannya juga mendapatkan pesan dari para korban dan diminta memberitakan kondisi sebenarnya di titik-titik bencana.


"Dari tadi kami dititipkan pesan sebagai jurnalis agar bisa memberitakan yang sebenar-benarnya soal Aceh" tegas Irine.


"Ini berat buat kami. Seberat relawan menembus wilayah-wilayah terdampak," ucapnya.


Klaim Prabowo Bencana di Sumatra Terkendali

Presiden RI Prabowo Subianto sebelumnya sudah dua kali menegaskan penanganan banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra, terkendali.


Pertama, saat kunjungan kerja selama dua hari ke wilayah terdampak bencana di Aceh dan Sumatra Utara, Sabtu (13/12/2025).


Kala itu, Prabowo memastikan penanganan dan pemulihan bencana di sejumlah daerah terdampak berada dalam kondisi terkendali. 


“Ya, saya lihat keadaan terkendali. Saya cek terus,” ujar Prabowo kepada awak media di Pangkalan TNI AU Soewondo, Kota Medan.


Menurut Prabowo, pemerintah tetap memantau langsung kondisi di lapangan, khususnya di lokasi pengungsian.


Meski ada sedikit keterlambatan, kata Prabowo, pelayanan terhadap para pengungsi berjalan dengan baik dan kebutuhan dasar masyarakat masih terjaga.


“Di sana sini memang keadaan alam, keadaan fisik, ada keterlambatan sedikit. Tapi saya cek semua ke tempat pengungsi kondisi mereka baik, pelayanan pada mereka baik, suplai pangan cukup,” tutur Prabowo.


Kedua, saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).


Prabowo menyebut, situasi pasca-bencana di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh masih terkendali saat menanggapi desakan tentang penetapan status bencana nasional.

PRABOWO DI LANGKAT - Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang pada Jumat (12/12/2025), meninjau para korban terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Tampak seorang wanita memeluk Presiden sambil menangis. Setelah dari Aceh, Prabowo lanjut kunjungan di Langkat, Sumatera Utara, pada Sabtu (13/12/2025), dan diwarnai peristiwa dramatis yang kemudian menjadi viral.

PRABOWO DI LANGKAT - Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang pada Jumat (12/12/2025), meninjau para korban terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Tampak seorang wanita memeluk Presiden sambil menangis. (Dok. Tim Media Presiden/Instagram @presidenrepublikindonesia)

Menurut Prabowo, pemerintah sudah mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengatasi bencana.


"Ada yang teriak-teriak ingin ini dinyatakan bencana nasional. Kita sudah kerahkan, ini tiga provinsi dari 38 provinsi. Jadi, situasi terkendali. Saya monitor terus, ya," ujarnya. 


Lebih lanjut, Prabowo menyebut akan membentuk satuan tugas (satgas) untuk rehabilitasi dan rekonstruksi.


Pakar: Prabowo Turun Tak Sembuhkan Luka Psikologis Warga

Sementara itu, pakar hukum tata negara Feri Amsari mengkritisi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lokasi bencana. 


Feri Amsari menyoroti kunjungan Prabowo ke wilayah terdampak untuk meninjau para penyintas tidak akan sepenuhnya menyembuhkan luka psikologis para korban.


"Kedatangan presiden itu kan menyembuhkan luka psikologi di tempat yang dikunjungi Presiden, tetapi tidak akan pernah secara utuh menyembuhkan luka itu, apalagi yang tidak didatangi," tegas Feri dalam program Kompas Petang di YouTube KompasTV Merauke, Kamis (18/12/2025).


Feri pun mengkritisi Prabowo sebagai RI1 yang dianggap minim peran strategisnya dalam upaya penanganan pasca-bencana di Sumatra.


Pasalnya kata Feri, Prabowo belum menjelaskan lebih rinci mengenai strategi pemerintah dalam penanggulangan bencana dan bagaimana pembagian tugas terhadap instansi atau pejabat terkait.


"Nah, saya tidak melihat ya peran presiden yang sangat strategis terkait penanggulangan ini," ujar Feri.


"Sampai hari ini Presiden tidak menjelaskan apa strateginya sebagai kepala negara, kepala pemerintahan dalam penanggulangan bencana" urainya. 


"Bagaimana komposisi beban penanggulangan itu baik yang diberikan kepada BNPB, kepada pemerintah daerah, kepada badan besar, dan masyarakat sipil." tegasnya. 


Feri juga menyebut, Prabowo belum bisa menjelaskan statistik yang memiliki relevansi dengan penanganan pasca-bencana, seperti upaya perbaikan rumah warga dan infrastruktur yang rusak maupun pemulihan psikologis para penyintas.


Bahkan Feri pun menyentil Prabowo sebagai presiden, tidak hanya sekadar meninjau pengungsi, tetapi juga memastikan distribusi bantuan makanan maupun logistik merata dan menjangkau para korban.


"Presiden sama sekali tidak mampu menjelaskan angka-angka yang relevan," ucap Feri.


"Misalnya, dia tidak pernah menjelaskan dari jumlah rumah yang rusak parah, kira-kira negara akan melakukan peran apa? dari banyaknya jalan yang putus, negara akan melakukan apa? kira-kira dari jumlah orang-orang yang kemudian terkena dampak mentalitasnya, apa peran negara?"


"Presiden kan tidak mungkin hanya sekedar makan di tempat pengungsian, tetapi bagaimana Presiden memastikan agar makanan dan kebutuhan logistik orang-orang yang berada di daerah-daerah itu betul-betul sudah diberikan oleh negara" pungkasnya. 


Bencana hidrometeorologis di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh telah menyebabkan 1.068 orang tewas dan 190 orang hilang serta total 537.185 pengungsi, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (18/12/2025).


Tak hanya korban jiwa, bencana tersebut juga menyebabkan kerusakan terhadap ratusan ribu rumah, bangunan fasilitas umum, fasilitas pendidikan, maupun rumah ibadah.


(Tribunnews.com/Tribunnews.com)

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter