infoselebb.my.id: Belum Kapok Dokter Tifa Jadi Tersangka Kasus Ijazah Jokowi, Malah Tuduh: Transkrip Nilainya Cacat - LESTI BILLAR

Belum Kapok Dokter Tifa Jadi Tersangka Kasus Ijazah Jokowi, Malah Tuduh: Transkrip Nilainya Cacat

Posting Komentar

Alih-alih bungkam sejak ditetapkan sebagai tersangka kasus ijazah Jokowi, Dokter Tifa justru makin berkoar-koar. 


Dirinya blak-blakan menyebut bahwa transkrip nilai Jokowi cacat. 


"Sebagaimana yang kami semua lihat, bahwa transkrip nilai Joko Widodo yang disampaikan oleh Bareskrim itu transkrip nilai yang cacat," tutur Dokter Tifa dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Senin.


"Karena tidak lengkap dan tidak sesuai dengan transkrip nilai dari Fakultas Kehutanan UGM di era tahun 1985," tambahnya.


Dokter Tifa mengaku, dirinya bersama Roy Suryo dan Rismon Sianipar sendiri mempunyai spesimen transkrip nilai Fakultas Kehutanan UGM yang juga sama-sama keluaran 1985.


Lebih lanjut, Tifa mengklaim, transkrip nilai Jokowi tidak sama dengan spesimen yang ia dan Roy serta Rismon miliki.


Adapun ijazah Jokowi sendiri tertanggal 5 November 1985.


"Kebetulan kami bertiga punya spesimen transkrip nilai Fakultas Kehutanan UGM keluaran tahun 1985 yang sangat berbeda dengan transkrip nilai yang disita oleh kepolisian," jelas Dokter Tifa.


"Dan ini bisa kami buktikan nanti bahwa transkrip nilai keduanya itu betul-betul sangat berbeda," lanjutnya.


Dokter Tifa menuturkan, transkrip nilai yang asli seharusnya komplet, dengan tanda tangan dekan dan pembantu dekan 1 dari fakultas.


Sementara, transkrip nilai Jokowi tidak lengkap tanda tangannya.


"Nah, kalau transkrip nilai asli itu sangat bagus, sempurna, ya, lengkap. dengan tanda tangan dari dekan dan pembantu dekan 1 dari Fakultas Kehutanan UGM," tutur Dokter Tifa.


"Sedangkan transkrip nilai Joko Widodo sama sekali tidak lengkap," imbuhnya.


Dokter Tifa yang juga merupakan alumni UGM dari Fakultas Kedokteran ini menerangkan, angka-angka pada transkrip nilai Jokowi tidak lazim untuk lulusan sarjana Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985.


Sebab, hanya ditulis tangan.


Menurutnya, seharusnya angka pada transkrip nilai Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985 ditulis dengan mesin ketik manual.


"Angkanya, angka-angka nilai pun juga ditulis dengan tulisan tangan dan itu sama sekali tidak lazim untuk lulusan sarjana di Fakultas Kehutanan UGM tahun 1985," jelas Dokter Tifa.


"Karena seharusnya angka tersebut dicetak dengan mesin ketik manual," tambahnya.


Dokter Tifa kembali menegaskan, kejanggalan transkrip nilai Jokowi yang tidak memuat tanda tangan dari Dekan dan Pembantu Dekan I Fakultas Kehutanan UGM, berbeda dengan spesimen transkrip nilai yang ia miliki bersama Roy Suryo dan Rismon.


"Dan yang paling penting lagi adalah bahwa transkrip nilai Joko Widodo tidak ada tanda tangan dari dekan dan pembantu dekan 1," ucap Dokter Tifa.


"Sedangkan transkrip nilai asli tahun 1985 ada tanda tangan dekan dan tanda tangan pembantu dekan 1," tegasnya.


Jadi Tersangka Tapi Tak Ditahan, Kenapa? 


Terungkap alasan Roy Suryo, Dokter Tifa dan Rismon Sianipar belum juga ditahan meski telah ditetapkan sebagai tersangka kasus ijazah Jokowi tudingan pencemaran nama baik. 


Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman menyebut Roy Suryo Cs menjadi korban KUHAP baru.


Hal itu disampaikan dalam konferensi pers mengenai KUHAP baru jelang Sidang Paripurna, Jakarta, Selasa (18/11/2025).


Habiburokhman mengatakan Roy Suryo Cs merupakan contoh korban dari KUHAP versi Orde Baru, sehingga RUU KUHAP perlu segera disahkan.


"Sekarang ini banyak orang jadi korban KUHAP orde baru, lihat misalnya kelompoknya Roy Suryo itu korban KUHAP orde baru. Menurut standar KUHAP baru Roy Suryo Cs ini penanganan kasusnya bisa dengan restorative justice," ujar Habiburohkman.


Pantas beberapa waktu saat penetapan sebagai tersangka, Roy Suryo cs malah bersikap santai tanpa ada perasaan khawatir. 


Secara terang-terangan Roy Suryo juga menyebut jika status tersangka belum tentu menjadi terdakwa.


"Mengikuti proses hukum yang ada karena status tersangka ini belum tentu terdakwa apalagi terpidana," ungkap Roy.


Roy Suryo justru menyindir terpidana inisial SM yang sekarang belum dieksekusi.


"Ada terpidana sudah berjalan enam tahun inkracht saja masih ada yang bebas melenggang tidak menghormati hukum sampai sekarang," tukas Roy.


Baru-baru ini UGM, Polda Metro Jaya dan KPU Surakarta yang mengklaim ijazah Jokowi asli justru dicecar oleh Majelis Hakim di sidang sengketa ijazah Jokowi. 


Jokowi Ogah Tunjukkan Ijazah Asli


Setelah lama dihujat dan beragam tudingan dilemparkan untuknya, kini akhirnya Jokowi buka suara. 


Ia mengungkapkan alasan utamanya ogah menunjukkan ijazah aslinya, bukan perkara dia takut, tapi karena ini. 


"Saya tidak menyampaikan kepada publik ijazah itu. Karena yang pertama ada aduan ke Bareskrim. Yang kedua saya dituduh ijazah saya palsu. Artinya yang menuduh itu yang harus membuktikan. Dalam hukum acara, siapa yang menuduh itu yang harus membuktikan. Itu yang saya tunggu itu. Coba dibuktikan seperti apa?" kata Jokowi dalam wawancara eksklusif dengan Kompas TV yang tayang di channel YouTube Kompas TV, Selasa (9/12/2025).


Menurut Jokowi pembuktian akan lebih baik di lakukan di pengadilan, agar dengan proses hukum akan tampak keadilan bagi semua pihak.


"Akan kelihatan adilnya karena yang memutuskan adalah di pengadilan. Karena yang membuat ijazah saya, sudah menyampaikan asli, masih tidak dipercaya, gimana?" kata Jokowi.


Karenanya Jokowi menilai ada agenda besar politik atau operasi politik di balik isu ijazahnya palsu yang terus menerus dihembuskan.


"Dan yang saya lihat ini memang ada agenda besar politik, ada operasi politik, yang sehingga bisa sampai bertahun-tahun, enggak rampung-rampung. Karena keinginan mereka untuk men-downggrade, menurunkan reputasi yang saya miliki. Meskipun saya merasa enggak punya reputasi apa-apa," kata Jokowi.


Menurut Jokowi keinginan pihak yang ingin menurunkan reputasinya untuk kepentingan politik.


"Kenapa sih kita harus mengolok-olok, menjelek-jelekkan, merendahkan, menghina, menuduh-nuduh?

Semua dilakukan untuk apa? Kalau hanya untuk main-main kan, mesti ada kepentingan politiknya di situ," kata Jokowi.


"Tapi sekali lagi mestinya dalam masa-masa ekstrem seperti ini kita konsentrasi untuk hal-hal yang besar, untuk strategi besar negara, untuk kepentingan yang lebih besar bagi negara ini," paparnya.


Jokowi mencontohkan misalnya yang berkaitan dengan perubahan karena artificial intelligence dan humanoid.


"Sehingga jangan malah energi besar kita pakai untuk urusan-urusan yang sebetulnya menurut saya, ya urusan ringan," kata Jokowi.


Karenanya Jokowi sangat yakin ada agenda besar dan orang besar di balik kasus ijazahnya.


Bahkan Jokowi mengaku sangat mengetahui siapa sosok orang besar itu.


"Saya pastikan, saya tahu. Ya, saya kira gampang ditebak lah. Tapi saya tidak, berusaha sampaikan," kata Jokowi.


Karenanya Jokowi sangat menunggu kasus ini diproses secara hukum hingga di bawa ke meja pengadilan.


"Ya, untuk pembelajaran kita semuanya, bahwa jangan sampai gampang menuduh orang, jangan sampai gampang menghina orang, memfitnah orang, mencemarkan nama baik seseorang," kata Jokowi. (*)

Related Posts

There is no other posts in this category.

Posting Komentar

Subscribe Our Newsletter