Wahyudin Moridu akhirnya buka suara terkait perjalanan hidupnya setelah resmi dipecat dari jabatannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Gorontalo.
Pria berusia 29 tahun itu mengaku akan kembali menjalani profesi lamanya, jauh dari kehidupan glamor yang selama ini melekat padanya sebagai wakil rakyat.
Pemecatan Wahyudin tidak lepas dari pernyataannya yang viral di media sosial, ketika ia sesumbar merampok uang negara demi bermewah-mewah bersama wanita selingkuhannya.
Ucapan tersebut menuai kemarahan publik dan menjadi sorotan tajam hingga membuat partai politiknya mengambil tindakan tegas.
Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya pada Minggu (21/9/2025), Wahyudin menampilkan kehidupannya yang kini benar-benar berbeda.
Ia menyebut dirinya sudah kembali menjadi “rakyat biasa” dan menekuni pekerjaan sederhana yang jauh dari fasilitas mentereng seperti saat masih menjadi pejabat.
Dalam unggahan itu, Wahyudin memperlihatkan aktivitasnya sebagai pekerja serabutan yang harus bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan.
Bahkan, ia sempat membagikan pengalamannya memperoleh upah Rp200 ribu dari hasil mengangkut semen seharian penuh.
Pada video terbaru, ia tampil dengan sederhana, mengenakan kaos biru dan celana pendek, tidak lagi berpenampilan rapi seperti saat masih duduk di kursi dewan.
Wahyudin menegaskan bahwa dirinya ikhlas menerima keputusan pemecatan yang diumumkan DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo.
PECATAN DPRD GORONTALO- Wahyudin Moridu memperlihatkan profesi barunya jadi "rakyat biasa", jauh dari kemewahan. Kini, banting stir menjual es batu dan kuli angkut di Manado. (Facebook/Wahyudin Moridu)
"Jadi teman-teman semua pasca tadi diumumkan oleh DPD PDI Perjuangan Provinsi Gorontalo, saya hari ini Alhamdulillah sudah diberhentikan dan sudah dicabut KTA-nya," ungkap Wahyudin.
Meski harus kehilangan status dan jabatan, ia mengaku tetap bersyukur karena bisa kembali menapaki hidup yang lebih sederhana.
Untuk melanjutkan hidup, ia kini memilih banting setir menjadi penjual es batu di Gorontalo.
"Sekarang menjalani aktifitasnya sebagaimana biasanya seperti tahun 2019 lalu, jadi pengusaha dan usaha kecil-kecilan, teman-teman semua yang butuh es batu bekawan ya," katanya penuh semangat.
Tak hanya berjualan es batu, Wahyudin juga kembali bekerja sebagai sopir truk dan kuli angkut untuk menambah pemasukan sehari-hari.
Dalam unggahan lainnya, ia menyebutkan akan hadir dalam aksi unjuk rasa yang digelar di kantor DPRD Provinsi Gorontalo pada Senin (22/9/2025).
Demo tersebut merupakan bentuk kemarahan publik atas ucapannya yang viral soal uang negara dan perselingkuhan.
Kesempatan itu akan ia gunakan untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat Gorontalo.
Dalam siaran langsung di akun TikTok istrinya, Mega Nusi, Sabtu (20/9/2025) malam, Wahyudin mengakui kesalahan fatalnya.
"Apa yang saya sampaikan saya akui salah, teman-teman. Tidak ada yang membenarkan bahwa saya benar, tidak, tidak," ucap Wahyu saat didampingi istri tercinta.
Ia menegaskan tidak akan menghindar dan siap menanggung semua konsekuensi hukum maupun sosial yang menimpanya.
"Teman-teman semua, saya akan hadir di demo itu, meminta maaf. Demonya itu hari Senin kalau tidak salah di DPRD Provinsi," jelas Wahyu dengan wajah penuh penyesalan.
Lebih lanjut, ia menyebutkan akan memanfaatkan momen tersebut untuk berpamitan dengan para staf yang pernah bekerja bersamanya di kantor DPRD.
"Saya akan minta maaf di situ dan sekaligus saya pamitan kepada seluruh staf saya di kantor," tambahnya.
Kini, Wahyudin memilih kembali ke kehidupan awalnya sebagai sopir truk, profesi yang pernah ia jalani sebelum terjun ke dunia politik.
Anggota DPRD Provinsi Gorontalo ini Wahyudin Moridu menuai kontroversi usai video dirinya bersama wanita viral di media sosial, ucapkan 'Kita rampok saja uang negara." (Tribun Gorontalo | Istimewa)
"Ya, teman-teman semua, saya mulai dari nol lagi. Jadi supir truk lagi. Dan pergaulan saya akan tetap seperti kemarin," beber Wahyudin Moridu.
Ia menceritakan, sebelum menjadi anggota DPRD, dirinya hanya seorang sopir angkutan dengan penghasilan pas-pasan.
Meski demikian, kala itu ia tetap bisa berbagi rezeki bersama istrinya yang masih kuliah dan sedang menempuh pendidikan.
Setelah menjadi pejabat publik, ia justru merasa jauh dari kesederhanaan yang dulu pernah ia jalani.
Wahyudin mengakui dirinya terlena dengan dunia politik hingga sempat melupakan masa lalu penuh perjuangan bersama sang istri.
Ia menyadari, pengalaman itu membuatnya “kufur nikmat” dan lupa pada kesetiaan keluarga yang selama ini menjadi penopang hidupnya.
Dalam pengakuannya, Wahyudin berjanji untuk memulai kembali segalanya dari nol bersama sang istri.
Baginya, tidak masalah jika harus bekerja keras sebagai sopir atau membuka usaha kecil, asalkan keluarganya tetap utuh dan harmonis.
Ia menegaskan bahwa rumah tangga jauh lebih penting dibandingkan hujatan atau penilaian publik.
“Kalau ini memang titik balik, biarlah saya jalani. Saya rela kembali seperti dulu, dengan gaji harian seadanya, yang penting kita tetap bersama,” katanya lirih kepada istrinya.
Mega Nusi pun memperlihatkan kesetiaannya dengan membagikan video saat suaminya menerima penghasilan Rp200 ribu dari hasil kerja keras.
Ia menaruh uang tersebut ke dalam celengan dengan penuh doa agar keberkahan tetap menyertai.
"Gaji pertama pasca selesai jadi anggota DPRD Provinsi, dapat Rp200 ribu hari ini kita masuki celengan, Insya Allah berkah," ucap Wahyudin penuh harap.
"Alhamdulillah tadi habis angkat semen dan membuat arang, Alhamdulillah 200 ribu," tambahnya sambil tersenyum tipis.
Meski penghasilan yang didapat sangat jauh dari gajinya sebagai anggota DPRD, sang istri tetap memberikan dukungan penuh.
Mega bertekad memulai kehidupan baru bersama suaminya meski harus kembali sederhana.
"Insya Allah berkah," ucap istrinya penuh keyakinan.
Mendengar itu, Wahyudin pun menimpali, "Amin, satu hari 100 ribu, satu bulan 3 juta lumayan lah untuk hidup ke depan."
Bagi mereka berdua, jumlah tersebut sudah cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari selama tetap ada kerja keras dan doa.
Mega pun menutup unggahannya dengan kalimat penuh semangat, "Bismilah menjalani hidup baru."
Lantas berapa sebenarnya gaji anggota DPRD Gorontalo?
Pendapatan anggota DPRD Provinsi Gorontalo mencapai sekitar Rp 40 juta per bulan setelah digabungkan dengan berbagai tunjangan di luar gaji pokok.
Secara nasional, aturan mengenai gaji dan tunjangan anggota DPRD diatur dalam PP Nomor 18 Tahun 2017 tentang Hak Keuangan dan Administratif Pimpinan dan Anggota DPRD.
Di tingkat daerah, pengaturan lebih lanjut tercantum dalam Peraturan Gubernur Gorontalo Nomor 34 Tahun 2017, yang merupakan turunan dari Perda Provinsi Gorontalo Nomor 5 Tahun 2017.
Untuk gaji pokok atau uang representasi, tercatat:
Ketua DPRD Rp 3 juta per bulan
Wakil Ketua Rp 2,4 juta per bulan
Anggota DPRD Rp 2,2 juta per bulan
Selain gaji, terdapat delapan jenis tunjangan yang diberikan, di antaranya:
Tunjangan Jabatan: Ketua DPRD Rp 4,3 juta, Wakil Ketua Rp 3,4 juta, Anggota Rp 3,2 juta
Tunjangan Komunikasi Intensif: Rp 9 juta untuk seluruh anggota
Tunjangan Reses: Rp 9 juta untuk seluruh anggota
Tunjangan Perumahan: Ketua dan Wakil Ketua Rp 11 juta, Anggota Rp 9,2 juta
Tunjangan Transportasi: Rp 10 juta untuk anggota DPRD
Selain itu, anggota DPRD juga menerima tunjangan keluarga, tunjangan beras, serta tunjangan alat kelengkapan dewan.
Jika digabungkan, gaji pokok dan tunjangan tersebut menghasilkan pendapatan bulanan sekitar Rp 40 juta bagi seorang anggota DPRD Provinsi Gorontalo.
Di luar itu, anggota DPRD memperoleh fasilitas jaminan kesejahteraan, meliputi jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, serta pakaian dinas dan atribut resmi.
Untuk pimpinan DPRD, terdapat tambahan fasilitas berupa rumah negara beserta perlengkapannya, kendaraan dinas jabatan, serta belanja rumah tangga.
Kabar Dipecat
Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Bidang Ideologi dan Kaderisasi, Djarot Saiful Hidayat, mengungkapkan bahwa pemecatan terhadap Wahyudin Moridu bukan keputusan instan.
Ada mekanisme yang ditempuh, salah satunya menindaklanjuti laporan dan rekomendasi resmi dari DPD PDIP Provinsi Gorontalo.
"Ditunggu saja (surat pemecatan), sekarang lagi dalam proses,” kata Djarot saat dikonfirmasi, Sabtu (20/9/2025), dikutip Tribungorontalo.com.
Menurut Djarot, apa yang dilakukan oleh Wahyudin tidak bisa dianggap sepele.
Ia menegaskan, tindakan tersebut sudah masuk kategori pelanggaran berat yang menyangkut disiplin partai.
“Bentuk pelanggaran berat terhadap disiplin partai, disiplin ideologi, dan disiplin etika,” tegasnya.
Lebih lanjut, Djarot menuturkan bahwa setiap pelanggaran di tubuh partai harus diberikan sanksi tegas, sesuai dengan tingkat kesalahan yang dilakukan.
Dalam kasus Wahyudin, ia menilai bobot pelanggaran sudah jelas berada pada level tertinggi.
“Menurut saya, itu sudah masuk pelanggaran berat. Lagi diproses pemecatan pada yang bersangkutan, itu juga sesuai dengan surat laporan dan rekomendasi dari DPD PDI Perjuangan Gorontalo disertai dengan bukti-bukti yang cukup,” ujarnya.
DPP PDIP disebut Djarot tak akan menutup mata terhadap dinamika yang terjadi di lapangan, terlebih kasus Wahyudin telah menimbulkan kegaduhan besar di tengah masyarakat.
“Setiap pelanggaran harus diberikan sanksi, dan sanksi disesuaikan dengan berat ringannya pelanggaran tersebut,” tambah Djarot.
Klarifikasi Wahyudin Bersama Istri
Sebelumnya, Wahyudin mengunggah klarifikasinya di laman Facebook-nya.
Didampingi istrinya, Megawati, ia mengaku menyesal dan menyatakan bahwa ucapannya sama sekali tidak bermaksud melecehkan masyarakat Gorontalo.
“Saya Wahyudin Moridu, Anggota DPRD Provinsi Gorontalo, bersama ini saya didampingi oleh istri saya
Megawati Musi, dengan ini atas nama pribadi dan keluarga saya memohon maaf atas video yang telah diviralkan lewat TikTok beberapa waktu lalu. Sesungguhnya bapak ibu sekalian saya tidak berniat untuk melecehkan ataupun menyinggung masyarakat Gorontalo yang saya wakili. Semua ini murni kesalahan saya,” kata Wahyudin.
Wahyudin siap menanggung segala konsekuensi atas pernyataan yang membuat rakyat geram.
"Apapun konsekuensi yang ditimbulkan atas video ini, saya, keluarga, dan teman-teman dekat saya memohon maaf, dan saya bersama istri saya siap menanggung konsekuensinya,” tambahnya.
Meski sudah meminta maaf, desakan warganet agar Wahyudin mengundurkan diri dari jabatannya masih terus bermunculan di lini masa.
Banyak yang menilai klarifikasi tidak cukup untuk menutup polemik pernyataan soal “rampok uang negara”.
Mengaku Mabuk
Selain itu, di hadapan BK, Wahyudin mengaku tidak mengatahui ucapan dan video tersebut.
Saat itu dia dalam kondisi mabuk.
"Sejak malam sampai besok pagi ke bandara (Djalaluddin Gorontalo), masih kondisi tidak sadar, artinya dalam keadaan mabuk," ungkapnya dalam konperensi pers di kantor DPRD Provinsi Gorontalo pada Jumat malam.
"Kami tanyakan kepada beliau, 'Apakah Saudara tahu video yang sekarang beredar menyangkut diri Saudara?' Beliau menjawab, 'Baru hari ini saya tahu'," ujar Fikram menirukan perkataan Wahyu.
Sejumlah fakta terkait video Wahyudin Moridu bersama seorang wanita itu akhirnya terungkap. Wahyudin telah membenarkan bahwa dirinya adalah sosok yang ada dalam video viral tersebut.
Namun, Wahyudin mengaku saat video itu direkam, ia tidak dalam kondisi sadar. Ia juga tidak mengetahui dirinya direkam oleh teman wanitanya.
"Kami lihat di momen video itu ada botol minuman. Kami kejar (tanya), 'Apakah Saudara telah mengonsumsi minuman keras?' Yang bersangkutan menyampaikan bahwa sejak tadi malam dia minum minuman keras. Sampai besok paginya ke bandara, dia masih dalam kondisi tidak sadar, artinya dalam keadaan mabuk. Ini adalah penyampaian beliau," papar Fikram.
Ia menambahkan bahwa Wahyudin telah menyetujui semua pengakuannya kepada BK DPRD untuk disampaikan ke publik.
"Alhamdulillah, yang bersangkutan setuju," jelasnya
Adapun wanita dalam video bersama Wahyudin berinisial FT dan bukan istrinya. Wanita tersebut diduga selingkuhan, motif menyebar video diduga karena minta dinikahi.
wanita tersebut meminta uang dengan jumlah fantastis.
“Ada seseorang yang sempat meminta dana ke saya dengan angka yang fantastis, dia minta Rp10 juta, teman-teman,” ungkap Wahyudin.
Ia menolak permintaan tersebut karena tidak memiliki cukup uang saat itu.
“Saat itu saya tidak punya uang,” akuinya.
Menurut Wahyudin, penolakan inilah yang memicu oknum tersebut menyebarkan video yang kini menjadi sorotan publik.
Wahyudin juga menegaskan bahwa sang istri telah mengetahui potensi penyebaran video tersebut sejak lama.
Keduanya telah berdiskusi dan sepakat untuk tidak memenuhi permintaan uang dari si pemeras.
Viral di Medsos
Sebelumnya, seorang anggota DPRD Gorontalo mengaku ingin merampok uang negara viral di media sosial.
Pantauan TribunGorontalo.com, video itu diambil dalam sebuah mobil Sport Utility Vehicle (SUV) yang viral di media sosial, salah satu diunggah Instagram @lambe_turah, Jumat (19/9/2025).
Dalam video yang direkam oleh seorang wanita yang tampak duduk di sampingnya.
Anggota DPRD bernama Wahyudin sesumbar akan merampok uang negara.
Wahyudin diduga sedang dalam perjalanan menuju Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Sambil tertawa bersama sang wanita, Wahyudin mengaku jika perjalanannya ini dibiayai negara.
"Hari ini menuju Makassar menggunakan uang negara," sambil tertawa bersama sang wanita.
"Kita rampok ajah uang negara ini kan. Kita habiskan ajah, biar negara ini makin miskin," ucap ia lagi sambil tertawa.
Saat ini redaksi TribunGorontalo.com tengah mengonfirmasi terkait konteks video tersebut.
Saat dihubungi, Wahyudin asal Boalemo itu belum menjawab.
Namun videonya sudah terlanjur beredar dan viral di Facebook dan grup-grup Whatsapp (WAG).
Apalagi dalam video tersebut ia menyebut sedang bersama kekasih gelap atau dalam bahasa Gorontalo disebut hugel (hubungan gelap).
"Ini membawa hugel langsung ke Makasar menggunakan uang negara," katanya.
Bahkan, Wahyudin ini terdengar seperti menyombongkan diri jika ia akan menjabat hingga 2031. (*)



Posting Komentar
Posting Komentar