Komika Marshel Widianto dituding menerima fee sebesar Rp 150 juta untuk menjadi buzzer pemerintah.
Tudingan tersebut bermula ketika Marshel mengunggah video yang mengkampanyekan 'AJAKAN DAMAI INDONESIA'.
Lewat reel instagramnya @marshel_widianto pada Jumat (29/8/2025), komika tersebut mengunggah sebuah video dengan narasi ajakan damai dari pemerintah, DPR, Brimob, ojol,dan Masyarakat.
Namun sesaat diunggah, video tersebut langsung dihapus oleh Marshel Widianto.
Marshel Widianto merupakan komika kelahiran Jakarta, 30 Mei 1996.
Marshel Widianto menikah dengan Yansen Indiani alias Casen di tahun 2022 lalu.
Dari pernikahan tersebut Marshel dan Cesen telah dikaruniai dua orang anak.
Marshel Widianto mengawali kariernya di tahun 2017 sebagai komika.
Di awal kariernya, Marshel Widianto mengikuti komunitas Stand Up Indo Jakarta Utara.
Dua tahun setelah itu, ia pun memberanikan diri untuk mengikuti kompetisi Stand Up Comedy Academy Musim 3 dan berhasil menjadi finalis 20 besar.
Setelah namanya dikenal publik, Marshel mengembangkan sayap kariernya dengan membintangi film layar lebar.
Laundry Show merupakan film pertama yang dibintangi Marshel di tahun 2019.
Di tahun 2023, ayah satu anak itu pun sukses membintangi 2 judul film sekaligus, yakni Sosok Ketiga dan Ketika Berhenti di Sini.
Tak hanya itu, Marshel Widianto juga sempat didapuk menjadi model video klip Mencinta Hati yang Tak Cinta milik Arsy Widianto di tahun 2021 lalu.
Marshel Widianto diketahui juga mencoba peruntungan di dunia tarik suara.
Pada tahun 2022 lalu, Marshel Widianto sempat merilis lagu dengan judul CLBK berkolaborasi bersama Gands Band.
Marshel Widianto pernah diusung untuk menjadi wakil wali kota.
Partai Gerindra resmi mengusung Marshel Widianto di Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) sebagai Bakal Calon Walikota.
Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Ketua DPD Partai Gerindra Banten, Andra Soni.
"Marshel itu adalah pemecah isu kotak kosong dan Marshel dicalonkan itu dalam keadaan beliau siap untuk dicalonkan sebagai wakil walikota," kata Andra.
Dituding jadi Buzzer Pemerintah, Marshel Membantah
Marshel Widianto dituding menjadi buzzer pemerintah dengan fee Rp 150 juta.
Sang komedian kini banjir hujatan sampai membantah tegas.
Aksi demonstrasi menyisakan duka mendalam usai seorang driver ojol, Affan Kurniawan meninggal dunia usai terlindas kendaraan taktis (rantis) milik Brimob.
Di tengah kabar duka itu, publik kembali dikejutkan dengan dugaan adanya tawaran fantastis sebesar Rp150 juta untuk sekali unggah konten di media sosial sebagai bagian dari kampanye ajakan damai.
Terbaru, Marshel Widianto dituding jadi buzzer pemerintah Rp 150 juta.
Hal itu berawal dari Marshel Widianto sempat mengunggah sebuah video lawas yang memperlihatkan suasana damai antara aparat dan demonstran.
Namun, alih-alih menyejukkan, video tersebut justru menuai kritik keras dari warganet yang menilai unggahan itu tidak sensitif terhadap kondisi terkini.
Finalis Stand Up Comedy Academy musim ketiga, Marshel Widianto, disebut-sebut menerima bayaran Rp150 juta untuk mengunggah konten tersebut.
Tak lama setelah menuai kritik keras, video itu akhirnya dihapus dari akun Instagram pribadinya.
Lewat unggahan klarifikasi di akun @marshel_widianto, komedian yang juga suami dari Yansen Indiani ini menyampaikan permohonan maaf secara terbuka.
“Teman-teman, saya secara pribadi meminta maaf atas video sebelumnya di IG saya,” tulis Marshel.
Ia mengakui khilaf karena tidak berpikir matang sebelum mempublikasikan video itu, bahkan menyebut tindakannya sebagai kebodohan.
Ayah dua anak ini juga menegaskan tidak pernah menerima bayaran sepeser pun, sekaligus memastikan bahwa video tersebut sudah ia hapus.
“Saya salah karena tidak berpikir panjang sebelum menaikan video itu, memang bodoh saya. Saya sama sekali tidak dibayar dan video tersebut pun sudah saya take down."
"Memang bodoh saya dan tolol. Silahkan maki saya sepuasnya, saya terima konsekuensi atas kebodohan saya,” tambahnya.
Meski sudah meminta maaf dan membantah isu pembayaran, banyak warganet yang masih meragukan pengakuannya.
"Antara kena tipu 150jt nya gagal caer jadi nyesel atau emg nyesel beneran ni cel? Hahaha," timpal akun @sals.bil
"Lu kenapa dari dulu begini mulu dah bang? Abis bikin kesalahan, update pasrah buat di maki-maki," sahut akun @echatyanna.
"Paling lu takedown karna temen temen artis ada yg negur lu kan, mamam tu duit darah!," komentar akun @mynamejelly_.
Sebelumnya, Jerome Polin mengungkap adanya tawaran fantastis senilai Rp150 juta untuk sekali unggah konten kampanye ajakan damai di akun Instagram pribadinya.
Sosok yang dikenal dengan gaya bicara lugas sekaligus edukatif itu menolak tawaran tersebut dan menyinggung pentingnya keterbukaan terkait penggunaan dana negara.
"Dear agency dan KOL, aku mohon untuk kali ini, jangan korbanin rakyat buat kepentingan kalian sendiri," tegas Jerome dilansir dari akun Instagram miliknya, Jumat (29/8/2025).
Jerome Polin Sijabat menilai nilai Rp150 juta untuk satu postingan sangat tidak masuk akal, terlebih bila dananya bersumber dari anggaran publik.
Ia menekankan bahwa uang rakyat seharusnya digunakan untuk kebutuhan yang lebih prioritas, bukan untuk sekadar pencitraan.
Dalam unggahan lain, Jerome mencontohkan bahwa bila dana sebesar itu dialihkan untuk kesejahteraan tenaga pendidik, maka banyak guru bisa merasakan manfaatnya.
"Uang rakyat dipake buat bayar buzzer per orang Rp 150 juta, kalau dipake buat naikin gaji guru per orang Rp 10 juta, udah bisa bikin 15 guru hidup sejahtera selama sebulan," imbuh pria berusia 27 tahun ini.
Pernyataannya ini mendapat sambutan luas dari warganet, yang menilai kritik Jerome mewakili suara keresahan masyarakat.
Ia mengingatkan publik agar tetap waspada dan mengawal transparansi anggaran negara.
Menurutnya, ajakan damai seharusnya lahir dari kesadaran rakyat, bukan dikonstruksi melalui kampanye berbayar.
"Semua lagi susah, kita berjuang bersama, yah? Tolong," tambah Jerome. (*)

Posting Komentar
Posting Komentar