Blak-blakan perempuan bernama Neni Nur Hayati menuding Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menggunakan uang negara untuk kepentingan pribadinya selama ini.
Tuduhan ini viral di berbagai platform media sosial, menarik perhatian masyarakat luas.
Dalam video tersebut, Neni menyampaikan bahwa Kang Dedi diduga memanfaatkan buzzer untuk menyebarkan konten positif yang mendukung citranya.
Meski demikian, dalam video klarifikasi yang diunggah beberapa hari kemudian, Neni menegaskan bahwa pencitraan pemerintah bukanlah hal yang salah selama dilakukan secara proporsional dan tidak berlebihan.
Lantas siapakah sosok Neni Nur Hayati ini ?
Neni Nurhayati, dikenal sebagai figur vokal dan kritis di dunia digital.
Ia merupakan Direktur Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Indonesia.
Neni kini tengah jadi sorotan setelah menyinggung kepala daerah yang melakukan pencitraan berlebihan buat konten hingga menggunakan buzzer.
Berikut pernyataannya:
"Saya cukup geram dengan siapa pun kepala daerah yang melakukan pencitraan secara berlebihan.
fakta tidak lebih penting dari opini.
Ketika tidak siap dengan kritik di media sosial mengerahkan buzzer untuk menyerang siapa pun yang kontra dengan kebijakannya dengan komentar-komentar yang sangat jahat,
dan untuk yang pro buzzer sudah bersiap untuk memuji-muji, membuat konten secara berlebihan kemudian memviralkannya.
Katanya penghematan anggaran belanja media tentu bukan penghematan namanya jika hanya sekedar mengalihkan dari anggaran belanja media untuk membayar buzzer
yang bekerja melalui akun-akun anonim dengan jumlah pengikut cukup besar dan semua itu didesain teman-teman
termasuk juga untuk warga yang memberikan testimoni sehingga seolah-olah pro dengan kebijakannya yang menandakan tidak ada pertentangan dengan rakyat," kata Neni.
Dedi Mulyadi Bantah
Sementara, Dedi Mulyadi membantah isu di media sosial yang menuding dirinya menggunakan anggaran pemerintah untuk membayar buzzer. Menurut dia, tuduhan tersebut tidak memiliki dasar.
Bahkan, masyarakat pun bisa mengecek penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 secara langsung.
"Silakan dicek di anggaran Jawa Barat, khususnya di Dinas Komunikasi dan Informatika.
Apakah benar ada anggaran untuk membayar buzzer? Kalau ada, laporkan saja ke aparat penegak hukum," ujar Dedi dalam keterangan tertulisnya, Selasa (15/7/2025).
Ia menerangkan, publik bisa mengakses langsung dokumen resmi detail penggunaan anggaran pemerintah.
Bahkan, bila perlu, publik bisa datang langsung ke setiap dinas untuk mengeceknya.
"Ambil saja datanya, baca bukunya. Jangan asal tuduh. Kami terbuka kok. Tinggal datang dan lihat," ucap Dedi.
Mantan Bupati Purwakarta itu menilai banyaknya dukungan dari media sosial bukan berasal dari buzzer bayaran, tetapi murni dari warganet yang memiliki harapan Jawa Barat bisa lebih baik lagi.
"Mereka itu warga yang punya akal sehat, punya harapan. Mereka bukan dibayar, dan mereka tidak suka menjelekkan orang lain," kata Dedi.
Dedi pun menyampaikan apresiasi terhadap sikap kritis masyarakat. Namun, ia mengimbau setiap kritik yang disampaikan tetap berlandaskan data dan fakta.
"Rakyat itu penting curiga pada pemimpinnya agar tidak semena-mena. Tapi sebelum speak up di media sosial, siapkan dulu datanya.
Jangan sampai menyebarkan informasi bohong," tuturnya.
Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seorang warganet yang menuduhnya menggunakan anggaran pemerintah untuk membayar buzzer.
"Terima kasih, semoga sehat selalu, diberkahi bersama keluarga, dan semoga terbiasa tidak berbohong di ruang publik," tutur Dedi. (*)

Posting Komentar
Posting Komentar